Wanita Tua Ini Tetap Bekerja Keras Walaupun Anaknya Kaya Raya !! 13 Tahun Kemudian Seorang Kanak2 Kecil Mengetuk Pintu Rumahnya dan Memberitahu Sesuatu Yang Sangat Mengejutkan !!

Di sebuah kampung Cina ada seorang nenek bernama Ying. Orang-orang di kampung itu pasti geleng-geleng kepala setiap kali mendengar nama Ying disebut. Bagaimana tidak, Ying yang sudah berusia 63 tahun masih membanting tulang sebagai pemulung meskipun kedua anaknya sudah menjadi orang yang berhasil.

Setelah suaminya meninggal, Ying mati-matian bekerja demi membesarkan kedua anaknya, namun sekarang, mereka seperti lupa kacang akan kulitnya. Ying tak ambil pusing dengan orang-orang desa yang mencemoohnya dari belakang, namun jika Ying mendengar langsung, ia akan langsung naik darah dan memarahi orang yang mengatai anaknya tidak berbakti dengan membabi buta!

Hari itu, seperti biasa Ying sedang memungut sampah di desa. Sebuah pecahan botol menusuk tangan Ying hingga darah segar terus mengalir. Tetangga yang sengaja melihat hal itu, segera menghampiri dan menolong Ying. Sambil membalut tangan Ying, tetangga itu pun berkata dengan prihatin,”Aduh ibu Ying, kedua anak ibu kan sudah kaya raya, kok tega banget sih ngebiarin ibu jadi pemulung? Udah gak pulang, gak pernah kirimin uang juga lagi! Sungguh anak tak berbakti!”

“Tutup mulutmu! Anakku sangat berbakti, jangan bicara sembarangan kamu yah!” teriak Ying dengan muka merah padam. “Ibu Ying, sudah tidak perlu bohong dan menutup-nutupi… Tiga tahun lalu saya lihat anak ibu yang paling besar pernah datang ke rumah dengan membawa mobil mewah. Tapi ia hanya berdiri di depan pintu rumah selama beberapa menit, kemudian pergi begitu saja. Kenapa coba..?” balas sang tetangga.

“Ia… Ia sedang ada urusan penting, jadi buru-buru.” Jawab Ying terbata-bata. “Masa masuk sebentar saja tidak sempat sih bu? Itu tandanya ia datang cuma untuk pamer bahwa ia sudah berhasil saja! Dasar keterlaluan!” ujar sang tetangga.

Mendengar ucapan tersebut, Ying marah besar,”Pergi kamu! Aku tidak butuh bantuanmu! Kalian orang-orang desa memang tidak suka melihat kedua anakku berhasil! Setiap hari kerjaan kalian hanya mengata-ngatai mereka tidak berbakti. Anakku berbakti atau tidak, aku yang paling tahu!!” Kaget marahi seperti itu, tetangga Ying pun pergi meninggalkannya sambil geleng-geleng kepala. Tinggallah Ying seorang diri berlinang air mata.

Ying tahu apa yang ia alami sekarang adalah karma atas perbuatannya saat muda. Dari kedua anak Ying, anak pertama adalah anak kandungnya, sedangkan anak keduanya adalah anak angkat. Ying lebih jauh lebih menyayangi anak angkatnya dibandingkan anak kandungnya sendiri. Ia selalu memberikan yang terbaik untuk anak angkatnya, bahkan di saat mereka tak punya uang, Ying tetap bersikeras menyekolahkan anak angkatnya. Ying melakukan hal tersebut bukan tanpa sebab. Ayah anak angkat Ying mengorbankan nyawa demi menyelamatkan suami Ying saat sedang bekerja, sedangkan ibunya kemudian pergi tanpa jejak. Suami Ying tak lama kemudian juga mati akibat terlalu lelah dan sakit-sakitan.

Ying pikir anak kandungnya bisa mengerti bahwa ia lebih mendahulukan dan menyayangi anak keduanya karena berhutang budi. Ying tak menyangka bahwa hal tersebut menoreh luka yang mendalam hingga menimbulkan kebencian dalam hati anak kandungnya.

Setelah lulus kuliah, anak angkat Ying menikah dengan seorang anak konglomerat. Sejak menikah, anak angkat Ying tak pernah lagi pulang ke rumah. Mungkin anak angkat Ying masih menyalahkan keluarga Ying atas kematian ayahnya dan kepergian ibunya.

Anak kandung Ying pun memutuskan untuk pergi dari rumah dengan alasan ingin mengadu nasip di kota. Tak disangka, tiga belas tahun kemudian ia akhirnya berhasil menjadi orang sukses dan kaya raya.

Sebenarnya, sejak 8 tahun lalu Ying terus menerima sepucuk surat yang isinya cukup tebal di setiap awal bulan. Tidak ada nama atau alamat apapun di surat tersebut, namun naluri ibu Ying mengatakan bahwa surat itu berisi uang dari anak kandungnya. Kendanti demikian, Ying tak sekalipun membukanya. Ia merasa tak pantas menerima uang itu, apalagi dengan keadaan belum berdamai dengan anaknya.

Hari itu seseorang mengetuk pintu rumah Ying. Saat pintu dibuka, Ying melihat seorang anak kecil berdiri di depannya dan berkata,”Nenek, papa bilang ia ingin pulang, apakah nenek mau mengjinkannya masuk ke rumah?” Belum sempat bertanya siapa papanya, Ying melihat sosok seorang lelaki yang ia kenal mendekat bersama dengan wanita yang adalah istrinya. Jantung Ying seakan berhenti berdetak, itu adalah anak kandungnya! “Ibu… maafkan aku, aku dulu terlalu egois dan terus memendam kebencian. Kini setelah menjadi ayah, aku baru mengerti, bagaimana perasaan ibu waktu itu. Mana ada orang tua yang tidak sayang kepada anaknya sendiri… “ujar sang anak sambil meneteskan air mata.

Ying tak berkata apapun, ia hanya membalas dengan pelukan dan berlinang air mata. Akhirnya setelah sekian lama, ia bisa kembali mendengar sang anak kembali memanggilnya “ibu”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *